Ketaatan Seorang Wanita kepada Suaminya

Assalamu’alaikum teman-teman yang di rahmati oleh Allah Swt. semoga selalu diberikan oleh Allah Swt. kesehatan. Teman-teman pernahkah kalian mendengar hadits berikut?:

Hadits pertama:

Dari Abu Hurairah r.a, Ia berkata, “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, ‘’(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suaminya) jika ia melihatnya, menaati (suaminya) jika ia memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi (suaminya) dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.“ (H.R Ahmad, Hakim, Nasa’i, dan Thabrani).

Rasulullah ﷺ menjawab dengan tiga ciri wanita yang terbaik. Seorang wanita yang salihah, yang dikatakan Khairunnisa atau sebaik baik wanita yaitu

Ciri pertama seorang yang kalau engkau perintahkan dia maka dia taati, dia melaksanakan perintah.


Yang kedua, dalam riwayat disebutkan, kalau engkau pandang dia menyenangkan. Jadi disamping mentaati suaminya, tetapi sedap dipandang. Artinya dalam keadaan menghiasi dirinya dengan dua perhiasan, dhohir (lahir) dan batin. Perhiasan dhohirnya ialah rambutnya, pakaiannya dan semua yang terlihat oleh suaminya, sedangkan batinnya adalah akhlaknya, tingkah lakunya dan juga raut wajahnya tersenyum kepada suaminya, menyenangkan, tutur katanya manis dsb. Maka kalau engkau memandang dia akan membahagiakan engkau, tidak memasang wajah yang bermuram durja, kecut, cemberut.

Ketiga, selalu menjaga dirinya dari yang haram, menjaga dirinya dari perkara² yang menjatuhkan kehormatan, menjaga dirinyadengan perbuatan yang tidak pantas dilakukan, menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya. Demikian sifat² wanita yang sholiha yang dikatakan oleh Khairunnisa (wanita yang baik).

Demikian jawaban Rasulullah ﷺ tentang wanita yang salihah, tentang Khairunnisa.

Hadis yang kedua:

Ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah ﷺ untuk suatu keperluan. Setelah selesai, Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki suami?” “Ya!” jawab si wanita itu. “Bagaimana sikapmu padanya?” sambung beliau. “Aku selalu melayaninya, kecuali dalam hal yang aku tak mampu, “jawab wanita itu.

Beliau lantas bersabda, “Perhatikan baik-baik bagaimana kedudukanmu di sisinya. Karena ia adalah surgamu atau nerakamu!” (H.R. Ahmad)

Karena seorang yang bisa memposisikan dirinya kepada suaminya dengan baik, mentaati nya ketika diperintah, menyenangkan ketika dipandang, menjaga dirinya, kehormatan nya, menjaga harta suaminya, maka niscaya suaminya adalah surga baginya. Tetapi celaka engkau jika berbuat yang sebaliknya. Bisa jadi rumah tangganya akan menjadi neraka, panas membara, sering terjadi keributan, tidak tentram dst. Maka lihatlah sikap dirimu terhadap suamimu karena dia adalah surgamu dan nerakamu.